Pajak, Youtube hingga Simbolisme yang Digugat

Salah satu pelajaran hidup selama satu tahun terakhir ini setelah lepas dari ketergantungan pada korporasi dan masuk dalam roller coaster dunia usaha adalah, betapa Pajak bagaikan kawanan Srigala yang mengintai dan siap menerkam, mencabik-cabik hingga tak tersisa daging pada tulang-tulang yang berserakan.

Ya.. Lebay memang..

Tapi kata “Kawanan” memang tidak salah untuk menggambarkan Pajak. Karena ketika anda masuk dalam dunia usaha, Pajak tiba-tiba muncul dalam bentuk kawanan. Tidak hanya satu atau dua, tapi banyak. Dan jika kita tidak waspada, Pajak akan membuat pengusaha terlilit hutang bahkan hingga masuk penjara.

Jadi, pelajaran yang saya petik, saya harus mengetahui dan akan lebih baik jika bisa memahami jenis-jenis Pajak yang ada di Indonesia.

Saya kumpulkan semua peraturan terkait Perpajakan baik dalam bentuk UU maupun PP. Dan sebagai pengingat, maka saya dokumentasikan dalam bentuk Video yang kemudian saya upload di Youtube.

(Jika penasaran seperti apa Video-nya, check link di bawah.)

 

Tujuan utama saya membuat dokumentasi dalam Video tentu untuk kebutuhan saya pribadi. Sehingga jika nanti saya lupa, saya bisa menemukan catatan saya dalam Video. Dan jika itu adalah hal yang baik, kenapa tidak saya share di publik? Siapa tahu ada orang-orang seperti saya yang sedang ketakutan pada intaian Srigala-srigala, dan Video ini bisa bermanfaat.

Tapi yang pasti, tujuan Video ini bukan untuk mengajari, menjadi tutorial, apalagi sebagai konsultan. Oh.. Itu terlalu jauh. Saya bukan pakar Pajak.

Dan itulah alasan kenapa Video sebisa mungkin saya buat jauh dari standar tutorial apalagi profesional. Saya sudah cukup tertekan untuk terus waspada pada intaian Srigala. Dan saya tidak ingin lebih tertekan dengan menjadi kaku memenuhi standar sebuah Video tutorial.

Saya hanya ingin having fun seperti Vlog-vlog yang dibuat oleh jutaan orang di Youtube.

Tapi..

Tak semua niat baik bisa memuaskan semuanya. Dan ternyata ini tentang simbolisme.

Ketika saya ingin membuat ilustrasi yang menunjukkan Negara, saya pun bingung. Karena negara itu bukan orang. Itu abstrak. Jika saya tulis saja, tentu gak seru. Lama-lama Video saya bisa jadi seperti Skripsi.

Representasi terdekat adalah mahkota. Ya.. Di negara kerajaan, representasi negara adalah raja dengan simbolisme mahkota. Siapa yang memakai mahkota, maka dia adalah raja. Dan raja adalah kepala Negara.

Tapi jika hanya mahkota, pun terasa kaku. Dan ketika saya scroll terus mouse, muncul gambar kodok dengan mahkota. Lucu banget..

Dan saya pun memilihnya..

Saya memilihnya karena lucu. Saya memilihnya karena suka. Tapi ternyata ada yang menggugatnya. Seharusnya, saya tidak menggunakan simbol raja kodok untuk merepresentasikan negara, katanya.

Untuk beberapa saat, saya sempat bingung. Memang kenapa? Ada apa?

Hingga akhirnya saya menemukan jawabannya.

Tapi ini mengingatkan saya pada berita yang dulu sempat viral tentang simbolisme. Dimana FPI memprotes simbol yang diduga palu arit di atas mata uang kertas baru. Dan dunia maya pun heboh bahkan hingga ke media masa.

Akhirnya banyak yang mencaci FPI dan menganggapnya lebay, kurang kerjaan, bahkan bodoh. Menurutnya, FPI terlalu berlebihan terhadap simbol-simbol. Hingga banyak bermunculan meme tentang simbol palu arit untuk meledek.

Di sini, saya hanya penonton. Dan hanya menyimpulkan 2 hal.

FPI sensitif terhadap simbolisme.

Lawan-lawannya biasa saja pada simbolisme.

Ya.. menurut saya, itu kesimpulan yang paling pas terhadap kejadian viral waktu itu. Dan semestinya konsisten seperti itu sampai kapanpun. FPI sensitif, lawan-lawannya biasa saja pada simbolisme.

Tapi apa yang terjadi saat kejadian berbalik?

Ada kejadian bendera Indonesia ditulisi kalimat tauhid. Pemiliknya ditangkap, dan dihujat di media sosial.

Di sini pun, saya hanya penonton. Dan jadi bingung menyimpulkannya.

Jadi siapa yang lebih sensitif pada simbolisme?

Dan..

Kembali tentang Video saya dan simbol yang tergugat, saya dinasehati, jika ingin membuat video sharing ilmu, maka harus mengikuti kaidah tertentu dan seterusnya dan seterusnya.

Ah.. Apakah membuat Video pun akan dibuatkan aturan-nya seperti aturan khotbah di Masjid yang dibuat Kemenag?

Sejujurnya, kini saya makin bingung. Bukankah orde baru sudah berlalu?

Advertisements

Mengenali Tetangga, Mengenali Singapura

Tak hanya sebagai Presiden Wanita pertama, tapi juga Presiden Muslim kedua setelah 47 tahun! Dan seperti biasa, berita ini pun menjadi bakso panas di Media Sosial dengan judul, “Mana nih yang kemarin gak pengen seperti Singapura?”.

Saya tidak akan mengomentari pernyataan kekanak-kanakan tersebut, tapi saya lebih suka untuk mengajak, yuk kita gali lebih dalam tentang Singapura atau biar lebih keren kita sebut Singapore!

Saya sudah berjanji untuk menahan diri di Media Sosial. Tentu saya masih baca kabar-kabar di Media Sosial dengan cara cepat. Buka di HP kemudian, wuzzz, saya slide terus dan terus dengan cepat. Dengan begitu, hanya kabar yang benar-benar masuk kriteria yang akan terjaring oleh mata.

Dan dari sekian banyak kabar berseliweran di Media Sosial, ada satu kabar yang menarik perhatian saya. Yaitu terpilihnya seorang Presiden Wanita pertama di negara tetangga, Singapura. Tak hanya sebagai Presiden Wanita pertama, tapi juga Presiden Muslim kedua setelah 47 tahun! Dan seperti biasa, berita ini pun menjadi bakso panas di Media Sosial dengan judul, “Mana nih yang kemarin gak pengen seperti Singapura?”.

Saya tidak akan mengomentari pernyataan kekanak-kanakan tersebut, tapi saya lebih suka untuk mengajak, yuk kita gali lebih dalam tentang Singapura atau biar lebih keren kita sebut Singapore!

Siapa penduduk asli Singapura?

Menjawab pertanyaan itu hanya akan memicu perdebatan yang tak ada gunanya. Sama seperti mempertanyakan siapa penduduk asli Indonesia. Tapi mari kita gunakan pendekatan lain. Mari kita ubah pertanyaannya menjadi, bagaimana komposisi demography Singapura di zaman dahulu kala?

Sayangnya, tidak ada catatan yang lengkap tentang Demography Singapura hingga terjadinya sensus di pemerintahan modern. Namun sebuah catatan menyebutkan, ketika Raffles (seorang berkebangsaan Inggris) pertama kali datang di tahun 1819, diperkirakan komposisi Grup Etnis di Singapura adalah 120 orang Melayu, 30 orang Chinese dan beberapa penduduk lokal (orang laut). Atau persentasenya jika hanya mempertimbangkan 2 etnis kurang lebih 79% Melayu, 19% Chinese. Namun terdapat catatan lain yang menyebutkan terdapat 1000 orang dengan mayoritas adalah penduduk lokal. Saat itu, Singapura berada di bawah kekuasaan Tumenggung Kesultanan Johor.

Namun sejak Singapura menjadi pelabuhan internasional, terjadi arus imigran yang luar biasa dan komposisi Grup Etnis berubah. Di tahun 1824, jumlah orang Melayu 4.850 (42%), orang Chinese 3.317 (31%), orang Bugis 1.925 (18%), orang India 756 (7%) dan sisanya 105 adalah etnis lain seperti eropa, arab, dan lain sebagainya. Saat itu, melalui kesepakatan dengan Sultan Johor, Inggris menguasai Singapura menjadi salah satu dari Negeri-Negeri Selat dan menjadikannya bagian dari India Inggris.

Tak perlu waktu lama, hanya 2 tahun kemudian, komposisi berubah. Tahun 1826, jumlah orang Melayu 4.790 (34%), orang Chinese 6.088 (44%), orang Bugis 1.242 (9%), orang India 1.021 (7%) dan sisanya adalah etnis lain seperti eropa, arab, jawa dan lain sebagainya. Kini, penduduk mayoritas adalah etnis Chinese.

Arus imigran tak terbendung. Hal ini dikarenakan Inggris terus mendatangkan pekerja-pekerja dari India dan China karena dianggap lebih baik. Ketika Singapura melakukan pemilihan pertama sebagai Pemerintahan Mandiri, 2 tahun sebelum itu yaitu tahun 1957, komposisi etnis adalah jumlah orang Melayu 197.059 (13%), orang Chinese 1.090.596 (75%), orang India 124.084 (8%) dan sisanya adalah etnis lain. Etnis Chinese menjadi mayoritas mutlak.

Komposisi ini tetap bertahan hingga saat ini yaitu Melayu 13.3%, Chinese 74.3%, India 9.1% dan lainnya 3.2%. Dengan Etnis Chinese tetap menjadi mayoritas mutlak.

Perjuangan Kemerdekaan Singapura!

Awalnya, semenanjung Malaya disebut sebagai Tanah Melayu (Melayu Land) dan dikuasai oleh Sultan-sultan Malaya. Hingga kemudian datang kapal-kapal dari Eropa mengubah segalanya.

Kolonialisme pertama yang menyentuh Malaya (meliputi Malaysia, Singapura dan Brunei saat ini) adalah kolonialisme oleh Portugis. Kemudian digeser oleh Belanda dan akhirnya jatuh dibawah pengaruh Inggris.

Sebelum kemudian jatuh ke tangan Jepang, wilayah Malaya terbagi atas beberapa wilayah. Pertama wilayah yang dikuasai penuh oleh Inggris yang disebut Crown Colony yang dipimpin seorang Gubernur Inggris. Wilayah itu meliputi Penang, Malaka, Singapura dan Labuan yang disebut Negeri-Negeri Selat. Kedua adalah wilayah Negara-negara Perserikatan Malaya yang meliputi Perak, Selangor, Negeri Sembilan dan Pahang yang meskipun merupakan wilayah independen namun dibawah pengaruh Inggris karena segala sesuatu harus melalui persetujuan Inggris. Dan ketiga adalah wilayah Negara-negara Tak Berserikat Malaya yang meliputi Johor, Kedah, Kelantan, Perlis dan Terengganu yang lebih independen namun tetap dibawah pengaruh Inggris. Di antara negara-negara tersebut, Johor memiliki kedudukan lebih spesial sebagai sekutu Inggris.

Pekik “Merdeka!” terdengar pertama kali tatkala Jepang menyerah kalah pada Sekutu. Ya, benar-benar kalimat “Merdeka!” bukan dalam bahasa Inggris “Independece!”.

Ketika Inggris kembali untuk melanjutkan kekuasaannya, penduduk lokal menganggap Inggris tidak mampu mengembalikan keadaan seperti sebelum perang dunia II. Hal ini menyebabkan sentimen anti kolonialisme mendapat sambutan.

Saat itu, Inggris berencana mengabungkan Negara-negara Selat, Negara-negara Perserikatan Malaya dan Negara-negara Tak Berserikat Malaya bergabung menjadi Malayan Union. Namun karena alasan dapat mempersulit proses penggabungan, Labuan (wilayah Borneo) tidak digabungkan. Sedangkan wilayah Singapura juga tidak digabungkan karena mendapat penolakan dari orang-orang Melayu, karena Inggris yang lebih menyukai etnis Chinese dan India akan memberikan hak yang sama bagi semua etnis baik Melayu maupun pendatang seperti Chinese dan India.

Malayan Union kemudian menjadi Perserikatan Malaya.

Dan perjuangan Singapura pun terpisah dari negeri serumpun lainnya.

Inggris secara bertahap melepas Singapura dan Labuan menjadi Pemerintahan Mandiri. Hal ini dimulai dengan dibubarkannya Negeri-Negeri Selat dan dipisahkannya Eksekutif dan Legislatif di tahun 1947.

Di lain pihak, dengan kegagalan Inggris memperbaiki keadaan ekonomi, menjadikan Partai Komunis Malaya menjadi makin kuat dan mulai mengadakan mogok masal.

Tatkala Inggris membatalkan penggabungan Singapura ke dalam Malayan Union, bagi orang-orang Chinese, hal ini dianggap sebagai pengingkaran janji atas kontribusi mereka dalam perjuangan melepaskan diri dari Jepang. Dan alasan demi alasan menjadi lengkap bagi Partai Komunis Malaya untuk memberontak.

Sedikit berbeda dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang harus melalui pertempuran yang panjang dan menjatuhkan banyak korban, kemerdekaan Singapura dihiasi sedikit pertempuran. Satu yang paling mencolok adalah Darurat Malaya, sebuah sebutan lain perang Malaya oleh Inggris hanya agar tidak disebut sebagai perang dan bisa mendapatkan asuransi.

Darurat Malaya adalah perang antara Pasukan Nasional Pembebasan Malaya yang merupakan sayap militer Partai Komunis Malaya melawan Pasukan Persemakmuran. Pertempurannya menggunakan metode Gerilya dari tahun 1948 hingga 1960.

Di saat yang bersamaan, proses pelepasan dari Inggris menuju Pemerintahan Mandiri terus berlangsung.

Pemilihan pertama terjadi tahun 1955. Pemenangnya saat itu, David Marshall dari Partai Buruh menuntut pemerintahan mandiri penuh namun ditolak Inggris kemudian digantikan oleh Lim Yew Hock yang dapat meyakinkan Inggris untuk pemerintahan mandiri selain urusan pertahanan dan urusan luar negeri.

Dan di pemilihan kedua, tahun 1959, yaitu pemilihan pertama kalinya di masa Pemerintahan Mandiri dibawah payung Persemakmuran, Lee Kuan Yew menjadi Perdana Menteri pertama. Meski belum sepenuhnya menjadi Pemerintahan Mandiri karena pertahanan dan urusan luar negeri masih dibawah kontrol Inggris, namun Singapura telah diakui sebagai Negara. Dan William Allmond Codrington Goode menjadi Yang Dipertuan Negara yang pertama dan kemudian digantikan oleh Yusof bin Ishak.

Menjadi Bagian Federasi Malaya dan Lepas!

Ketika Lee Kuan Yew memimpin, ia  mencanangkan rencana penggabungan Singapura ke dalam Perserikatan Malaya. Dan tahun 1963, wilayah Perserikatan Malaya, Singapura, dan wilayah di utara Kalimantan bergabung menjadi satu dengan nama Malaysia. Dan itulah pertama kali wilayah tersebut disebut Malaysia hingga kini.

Namun hal ini tidak lama, karena alasan konflik ideologi, di tahun 1965, Singapura dikeluarkan dari Malaysia oleh parlemen Malaysia.

9 Agustus 1965 kemudian menjadi hari kemerdekaan Singapura (meski masih dibawah persemakmuran Inggris) dengan Perdana Menteri pertama Lee Kuan Yew dan Presiden Pertama Yusof bin Ishak.

Sistem Pemerintahan Singapura!

Singapura adalah negara Republik Parlementer. Artinya, Singapura dipimpin bukan oleh seorang raja atau sultan turun temurun, tapi oleh rakyat yang dipilih menjadi pemimpin. Dan karena menganut sistem Parlementer, pemimpin harus bertanggung jawab pada Parlemen.

Parlemen

Di Singapura parlemen memiliki kekuasaan yang cukup besar. Terdiri 89 orang yang dipilih oleh rakyat. Selain itu, ditambah 3 orang dari Partai non pemerintah dan 9 orang hasil dari nominasi. Anggota yang disebutkan terakhir tidak memiliki suara dalam banyak sidang.

Hingga saat ini, partai yang selalu berkuasa adalah People Action Party dengan suara hingga 70%.

Perdana Menteri

Perdana Menteri adalah anggota Parlemen dari partai pemenang. Perdana Menteri ditunjuk oleh Presiden (yang tentu memilih kandidat dari partai pemenang). Jadi, bisa dikatakan, partai yang memenangkan kursi Parlemen dapat dipastikan akan mendapatkan kursi Perdana Menteri.

Perdana Menteri adalah Kepala Pemerintahan. Dia memiliki kekuasaan penuh menjalankan pemerintahan. Perdana Menteri dibantu oleh Kabinet yang dipilih oleh Presiden melalui masukan Perdana Menteri. Anggota Kabinet adalah anggota Parlemen.

Sejak merdeka tahun 1965, Singapura baru memiliki pergantian 3 Perdana Menteri. Dengan Lee Kwan Yew yang memimpin hingga 25 tahun  dan Goh Chok Tong hingga 13 tahun dan Perdana Menteri saat ini, Lee Hsien Loong (anak Lee Kwan Yew) yang sudah menjabat 13 tahun.

Presiden

Presiden adalah perubahan nama dari kursi yang sebelumnya disebut sebagai Yang diPertuan Negara sejak merdeka tahun 1965. Presiden adalah Kepala Negara. Sebelum amandemen tahun 1991, Presiden ditunjuk oleh Parlemen dan hanya memiliki kewenangan seremonial semata.

Tahun 1991, terjadi amandemen yang mengamanatkan Presiden dipilih langsung. Sebelum pemilihan Presiden, sebuah panitia pemilihan presiden dibentuk untuk menyaring Kandidat Presiden sesuai kriteria yang ditentukan seperti; integritas, karakter dan reputasi yang baik, berpengalaman di pos pemerintahan tertentu, atau Chief Executive dengan saham dengan nilai tertentu selama 3 tahun terakhir atau memiliki kemampuan terkait managemen keuangan dan memiliki senioritas dalam sektor publik maupun private dan lainnya.

Ketatnya kriteria inilah yang kemudian menyebabkan di tahun 1999 hingga 2011 S. R. Nathan terpilih bukan karena Vote tapi karena menjadi satu-satunya kandidat yang memenuhi kriteria.

Kriteria ditambahkan dengan amandemen terbaru dimana posisi Presiden haruslah bergantian antara etnis Chinese, Melayu, India dan Minoritas lain. Dan ini mulai diterapkan di pemilihan presiden tahun 2017 ini dengan Halimah Yacob dinyatakan sebagai Presiden Singapura karena menjadi satu-satunya kandidat yang memenuhi kriteria.

Sejak Presiden dipilih langsung, selain memiliki kewenangan seremonial, Presiden juga memiliki sedikit tambahan kekuasaan seperti veto dalam menentukan penggunaan keuangan negara dan pemilihan kandidat untuk pos-pos tertentu seperti Hakim.

So.. Apa yang sebenarnya terjadi?

Jika kita coba rangkum dalam tulisan singkat yang terjadi di Singapura..

Sebuah wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh penduduk lokal, kemudian tiba-tiba terjadi arus imigran tenaga kerja yang sangat luar biasa hanya dalam beberapa tahun. Hingga jumlah imigran jauh melampui jumlah penduduk lokal.

Etnis mayoritas tiba-tiba menjadi minoritas dan minoritas tiba-tiba menjadi mayoritas.

Dan saat dilakukan pemilihan pemimpin, maka kaum imigran menjadi penguasa dari masa ke masa.

Setidaknya, kaum imigran pekerja masih memiliki sopan santun dengan memberikan setetes kekuasaan bagi penduduk lokal yang kini minoritas. Meski itu harus menunggu 47 tahun dan entah untuk berapa lama..

(note: kursi Presiden berlaku 6 tahun).

So.. Masih pengen seperti Singapura?

*sumber dari Wikipedia berbahasa Inggris

 

 

Penjual Bakso, Jaminan Kesehatan dan Jakarta

“Satu ya, Mas!”, seruku dari punggung beberapa orang yang sedang sibuk memilih bakso. Penjual Bakso itu menatapku sesaat kemudian mengangguk dan kembali sibuk melayani pembeli.

Setelah merasa yakin pesanan diterima, saya pun mencari kursi di sekitar halte sambil berharap cemas kalau-kalau giliranku diserobot.

Yang ku beli adalah Bakso Malang.

Sedikit berbeda dari penjual bakso malang biasanya yang menggunakan gerobak, penjual yang ini berjualan menggunakan motor. Ia letakkan etalase, kompor dan sebagainya di kursi belakang motornya. Kemudian dia parkirkan tepat di depan halte seberang Stasiun Kereta Api.

Ia parkir di sana bersama sederetan para pedagang kaki lima lainnya.

Dan inilah saya, inilah Jakarta.

Inilah saya yang terbiasa makan sajian pinggir jalan yang saya percayakan seluruh ke-higenisan dan kehalalan pada si penjual. Dan inilah Jakarta, tempat berkumpulnya manusia-manusia yang selalu ingin berhemat yang bersimbiosis mutualisme dengan manusia-manusia yang ingin bertahan hidup.

Tentu bukan saya, jika ada seseorang yang merasa risih menyantap sajian pinggir jalan. Dan akan menjadi bukan Jakarta saat simbiosis mutualisme itu lenyap.

Inilah saya, bagian dari kebanyakan manusia di Jakarta, yang seakan tak membutuhkan penguasa untuk menjamin higenitas dan kehalalan sebuah produk tapi cukup meletakkan kepercayaan pada para pedagang kaki lima yang legam bersimbah keringat.

Mereka, para pedagang itu, tidak mungkin mengikuti peraturan penguasa untuk mendaftarkan produknya pada BPOM atau mendaftarkan kehalalan produknya pada Halal MUI. Mereka berada di sebuah wilayah awang-awang. Antara ada dan tiada.

Mereka ada, karena saya selalu bisa menemukan mereka. Tapi mereka tiada di dalam daftar pencari nafkah yang layak di layani oleh penguasa.

Saat ruangan sejuk dan kursi empuk siap melayani para pengusaha berlimpahkan dana, maka tatapan sangar pamong praja yang siap melayani para pedagang kaki lima. Tatkala mereka yang berdaya dicari-cari penguasa untuk membangun negara, maka pedagang kaki lima hilang dari catatan karena ia seolah beban bagi negara.

Entah bagaimana caranya, saya merasa seolah penguasa bicara pada saya dalam sebuah bisikan, “Jika engkau ingin agar dijamin kesehatanmu, maka belilah produk yang terdaftar dan dijamin oleh BPOM!” Dan jika itu kuturuti, maka cepat hilang lembaran biru dari kantung celanaku dan makin berkibar para pedagang putih bersih berjas dan wangi itu.

Dan inilah saya, salah satu manusia di Jakarta yang berharap lembaran biru mampu menghidupi tidak hanya sekali tapi tiga kali bahkan sepuluh kali jika perlu. Dan itulah yang membuat manusia-manusia sepertiku, tak mau mendengar bisikan penguasa dan meletakkan kepercayaan sepenuhnya pada pedagang kaki lima.

Dan inilah Jakarta, tempat indah yang mempertemukan mereka yang saling membutuhkan. Ia mempertemukan saya dengan pedagang kaki lima yang mampu memberiku jaminan bahwa lembaran biru terasa sangat berharga. Ia mempertemukan kita untuk bertahan hidup di bawah segelintir kaki-kaki yang haus akan kuasa.

Inilah saya, inilah Jakarta..

Karena warna Jakarta bukan penguasa. Warna Jakarta adalah warganya.

 

*note: saat blog ini ditulis, lembaran biru bernilai 50.000

 

Mudik, Tol Lampung, Janji Manis dan Keselamatan

Jika ingin lancar mudik ke Lampung, berangkatlah 1 hari sebelum Lebaran!

Itu adalah fakta yang saya dapatkan 1 tahun yang lalu dan saya coba konfirmasi lagi di tahun ini. Dan hasilnya, confirmed!

Titik yang paling membuat frustasi pemudik menuju Lampung dan Sumatera lainnya adalah antrian yang super panjang di Pelabuhan Merak. Kita dipaksa untuk parkir berjam-jam bahkan hingga seharian jika perlu untuk menunggu giliran diseberangkan oleh kapal Ferry.

Dan titik berikutnya adalah perjalanan menuju Bandar Lampung karena melalui jalan yang naik turun. Yang memperlambat adalah kendaraan yang berat yang sulit menjaga kecepatan saat menanjak seperti Bus dan Truk. Untungnya, Truk sudah dilarang beredar semasa hari-hari mudik, tapi toh masih ada Bus yang akan bersusah payah untuk mendaki.

Tapi..

Satu hari sebelum Lebaran, kondisi itu tak begitu nampak.

Jalanan bebas dari Truk dan bebas juga dari para pesaing sesama pemudik. Sehingga jalanan lebih lengang atau setidaknya sama dengan kondisi normal.

Dan bahkan saya tidak perlu melewati jalan Tol Lampung yang dulu katanya bisa digunakan untuk mudik Lebaran!

Eh, mm..

Faktanya jalan tol tidak bisa digunakan untuk mudik Lebaran tahun ini. Entah kenapa pemerintah bisa begitu PeDe nya mengatakan 13 Km Tol Lampung bisa mengurangi beban mudik Lebaran. Kenyataanya, banyak jembatan yang belum selesai sehingga mustahil dilewati. Seandainya pun bisa, tapi itu sungguh memaksakan.

Tapi mungkin rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan segala hal yang bersifat darurat.

Jika kita membandingkan dengan negara maju.. Hmm.. Negara mana ya? Wong saya gak pernah kemana-mana he..

Oke deh, kita bandingkan dengan peraturan perusahaan yang berasal dari negara maju. Kalo ini, saya pernah berada di dalamnya, jadi lebih valid.

Perusahaan-perusahaan dari negara-negara maju, pasti akan berusaha menerapkan sistem keselamatan dengan standar yang sama entah itu di negara asalnya maupun di Indonesia. Meskipun terkadang mental anak bangsa ini belum siap menerimanya sehingga pelaksanaannya amburadul, tapi peraturannya sama.

Misalnya, hanya karena ada sebuah rambu keselamatan yang tidak terpasang, sebuah pekerjaan akan dihentikan hingga rambu itu terpasang!

Bisa dibayangkan berapa kerugian sebuah perusahaan jika sebuah pekerjaan dihentikan. Tapi begitulah peraturannya. Tentu itu bukan keinginan si perusahaan, tapi peraturan yang ditetapkan oleh negara asal untuk melindungi para pekerja.

Pemerintah negara asal betul-betul menghargai nyawa pekerja sedemikian tingginya dibandingkan rupiah atau dolar. Dan pelanggaran terhadap peraturan dapat menyebabkan perusahaan didenda dengan angka yang tinggi bahkan hingga pencabutan izin usaha.

Dan untungnya, peraturan itu tidak hanya mengikat di negara asal, tapi di manapun perusahaan itu beroperasi termasuk di Indonesia.

Nah..

Mari kita bandingkan dengan keputusan pemerintah membolehkan kendaraan melewati sebuah jalan yang belum jadi. Jalan yang belum pernah di test sama sekali dan dengan rambu-rambu yang belum lengkap juga fasilitas pendukung lainnya yang minim bahkan tidak ada sama sekali.

Jika ada yang mengatakan, “Itu bukan salah pemerintah, karena pemudiknya suka rela mau menggunakannya.”, maka confirmed yang saya katakan sebelumnya.

“Mungkin rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan segala hal yang bersifat darurat.”

 

Jembatan Penyebarangan, Seorang Ibu dan Depresi

Dua pekan yang lalu, di sebuah jembatan penyeberangan yang sering saya lewati setiap pagi ada sedikit keramaian.

Seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya meronta-ronta saat beberapa laki-laki memegangi tangannya dengan erat. Ia menangis dan tak mau bergerak saat beberapa laki-laki itu berusaha membawanya turun jembatan penyeberangan.

Untuk sesaat, ada beberapa pikiran terlintas. Bahkan saya sempat berfikir, si Ibu adalah seorang penculik anak yang tertangkap! Mungkin saya terbawa oleh berita-berita yang akhir-akhir sempat mencuat tentang modus operandi penculikan anak untuk dijual organnya.

Ketika kemudian saya mendekati keramaian itu, barulah saya tahu bahwa si Ibu tertangkap basah hendak melompat dari jembatan penyeberangan. Untunglah saat itu ada bapak-bapak yang melihat dan segera menarik tangannya dan melaporkan ke sekuriti sebuah kantor terdekat.

Dan para sekuriti itulah yang memegangi tangan si Ibu dan berusaha membawanya turun.

Pagi itu, saya menyaksikan sebuah drama kehidupan.

Entah apa yang dialami si Ibu hingga berniat melompat dari jembatan penyebarangan sambil menggendong anaknya. Meski berdasarkan cerita, si Ibu baru saja bertemu dengan suaminya yang bekerja di salah satu kantor terdekat. Cerita lebih lengkap saya tidak tahu. Yang jelas, si Ibu pasti sangat putus asa hingga berniat terjun dari jembatan penyeberangan. Atau kata yang lebih tepat adalah depresi.

Penjelasan tentang depresi, ternyata cukup rumit karena melibatkan tidak hanya biologi seperti otak dan teman-temannya, tapi juga psikologi dan sosial. Namun singkat cerita, depresi tidak bisa sembuh hanya dengan satu kalimat nasehat, “Sudah lupakan saja..”

Blog ini bukan untuk mengupas depresi karena saya memiliki blog yang lebih pas untuk membahasnya. Namun di blog ini saya ingin mengatakan bahwa depresi adalah sesuatu yang harus ditanggapi dengan serius. Karena kenyataannya, seperti penyakit jantung atau penyakit kelas berat lainnya, depresi juga dapat menghilangkan nyawa manusia.

Berbeda dengan penyakit jantung yang hanya melibatkan obat-obatan dan pola hidup sehat, depresi lebih banyak bergantung pada solusi psikologi sedangkan obat-obatan seperti anti depresan hanyalah pembantu. Kepekaan sosial masyarakat juga dibutuhkan sebagai solusi penyembuhan depresi dan menghindari akibat fatal seperti bunuh diri.

Ah, kenapa tulisan saya jadi serius? Ini seharusnya blog curhat..

Hmm, dan ngomong-ngomong tentang curhat dan terkait depresi, sepertinya ini adalah hal yang nyambung.

Seseorang yang mengalami depresi, akan jauh lebih baik jika ia bisa curhat. Karena seseorang yang depresi memiliki kecenderungan tidak mau berkomunikasi dengan orang lain.

So.. Jadi gak salah kan kalo saya punya blog curhat?

 

 

Warung dan Penyandang Disabilitas

Ada sebuah warung makan yang menjadi langganan saya sehari-hari. Kenapa saya selalu kesana, no idea. Mungkin karena dekat atau mungkin tidak ada pilihan lain atau juga mungkin karena rasa masakannya pas di lidah saya. Entahlah.

Namun ada satu hal yang membuat saya merasa bahwa, seburuk apapun hari saya, ada karunia yang tak akan pernah habis untuk disyukuri.

Warung itu dimiliki oleh seorang Ibu dan dibantu oleh kakak perempuannya yang menyandang disabilitas. Sang kakak memiliki pendengaran yang sangat lemah atau bahkan mungkin tak mampu mendengar. Selain itu, ia juga memiliki keterbatasan dalam berbicara.

Pertama kali saya bercakap dengan beliau, saya sama sekali tak mampu memahami kata yang ingin ia ucapkan. Bagi saya hanya terdengar seperti suara teriakan tak bermakna. Dan jangan berharap untuk bisa memanggilnya saat beliau membelakangi kita, kecuali dengan cara sedikit menepuk pundaknya. Karena beliau menerjemahkan kalimat dengan membaca gerakan bibir kita.

Tapi kemudian, ada yang membuat saya takjub. Pemilik warung yang adalah adik dari penyandang disabilitas itu bisa bercakap dengan mudah dengannya. Bicara lirih disertai isyarat tangan, keduanya mampu berkomunikasi dengan lancar.

Warung ini memberiku pelajaran yang sangat berharga. Setidaknya, dua pelajaran berharga.

Pertama adalah sebuah ikatan kasih sayang seorang saudara.

Ibu pemilik warung yang adalah seorang adik, dengan sabar dan menerima apa adanya kondisi sang kakak perempuannya. Tidak pernah sekalipun terdengar kata yang menyakitkan keluar dari mulut sang adik.

Pernah saya mendengar keluhan dari pembeli karena sulitnya berkomunikasi dengan sang kakak. Terkadang si pembeli pun menggerutu. Dan mungkin si pembeli berfikir, kenapa pemilik warung menjadikan seorang penyandang disabilitas menjadi penunggu warung?

Tapi jika kita mau berfikir lebih jauh untuk sesaat, jika untuk sebuah momen memesan makanan saja kita sudah uring-uringan dan tidak sabar, tidak kah terbayang bagaimana orang yang harus selalu berdampingan dengannya sepanjang hidupnya? Betapa kecilnya kesabaran kita dibanding sang adik?

Dan dengan semua kelemahan itu, kita masih berani untuk sombong?

Pelajaran berharga kedua adalah, sebuah semangat hidup yang tidak pernah padam apapun kondisinya.

Sang kakak, dengan segala keterbatasannya, ia tetap semangat membantu ibu pemilik warung untuk memasak dan melayani pembeli. Dengan kemampuan komunikasinya yang bisa membuat jidat pembeli berkerut, tidak membuatnya putus asa untuk melayani. Tidak pula membuatnya menghilang esok harinya karena meratapi keterbatasannya.

Dan itulah yang membuat saya selalu merasa bersyukur setiap kali berkunjung ke warung makan kecil itu. Seburuk apapun hari yang saya jalani hari itu, saya akan mendapati alasan untuk selalu bersyukur atas karunia yang saya peroleh. Sebuah karunia yang kita tidak menyadarinya namun terkadang tidak dimiliki oleh orang lain.

Dan saat duduk di warung itu, kita pun akan tersadar bahwa ada sebuah karunia yang kita tak akan pernah berharap tercabut dari diri kita.

Oya, kini.. Meski sangat terbatas, saya bisa berkomunikasi dengan sang kakak. Setidaknya cukuplah untuk memesan es teh manis dan sepiring nasi dan lauknya.

 

Media Sosial, Perlukah?

Ketika azan Magrib berkumandang di hari Sabtu, 27 Mei 2017 yang lalu, tidak hanya saya berikrar untuk merayakan Ramadhan semaksimal mungkin, tapi saya juga berikrar untuk mengurangi semaksimal mungkin penggunaan media sosial yang tidak penting.

Ada dua jenis media sosial yang kucoba untuk perketat, Facebook, Twitter dan teman-temannya, dan aplikasi chat seperti Whatsapp dan teman-temannya.

Yang coba saya lakukan sangat sederhana..

Pertama, saya mencoba untuk tidak membuka Facebook dan Twitter sama sekali atau setidaknya menahan diri untuk tidak membukanya semaksimal mungkin. Dan yang pasti, saya juga berusaha untuk tidak melakukan interaksi melalui media tersebut, baik posting status maupun berkomentar (Catatan; mungkin artikel ini akan secara otomatis terposting ke Facebook dan Twitter karena setting dari awal).

Dan hasilnya..

Wualaa..! Saya masih sehat dan baik-baik saja..

Lalu bagaimana dengan Whatsapp dan aplikasi chat lainnya?

Whatsapp saat ini sudah menjadi alat komunikasi standar menggantikan SMS, tentu hal yang tidak mungkin bagi saya untuk tidak membukanya. Tapi setidaknya, saya mencoba untuk tidak membuka aplikasi chat yang lain seperti BBM, Line dan lainnya.

Bahkan, untuk Whatsapp pun, saya coba untuk tidak membuka grup-grup yang tidak benar-benar penting. Grup-grup yang terkait pekerjaan tentu menjadi pengecualian, tapi grup-grup lain terkadang pesan menumpuk hingga ribuan dan tidak saya baca apalagi berinteraksi di dalamnya. Terlebih grup-grup debat.

Dan hasilnya..

Wow.. Ternyata saya juga masih baik-baik saja..

Tapi kenapa sekarang masih menulis di Blog? Bukankah itu juga media sosial?

Ya, betul bahwa blog adalah salah satu jenis media sosial. Dan ini adalah salah satu media sosial yang saya keluarkan dari black list selama Ramadhan karena blog sedikit berbeda.

Hal paling membedakan adalah tidak ada timeline! Sehingga ketika saya membuka blog, maka saya benar-benar fokus dengan tulisan saya, ide-ide saya, pemikiran-pemikiran saya dan kreatifitas saya. Dan hal yang membedakan berikutnya adalah, saya pasti menulis artikel yang cukup panjang yang artinya, artikel tersebut dapat memiliki konten yang bermakna. Tidak sekedar respon singkat yang tidak penting.

Dari yang saya rasakan setelah “berpuasa” media sosial, ternyata saya baik-baik saja.

Dan saya pun jadi tahu bahwa, manfaat paling minimal ketika kita lepas dari media sosial adalah kita tetap baik-baik saja. Tidak sakit, tidak menjadi bodoh, tidak menjadi gaptek, tidak menjadi kuper dan tidak merasakan ketakutan-ketakutan lainnya.

Jadi jawaban paling sederhana dari pertanyaan pada judul artikel ini adalah “TIDAK”. Kita tidak benar-benar perlu media sosial. Yang benar-benar kita butuhkan adalah bersosial bukan menggunakan media sosial!