Kesalahan, Marah dan Maaf

Percayakah anda pada seseorang, jika suatu ketika seseorang itu melakukan kesalahan terhadap anda dan dia meminta maaf kemudian berkata, saya tidak bermaksud melakukannya?

Dulu, ketika saya masih SMP kelas 1, sahabat saya, teman se-bangku saya, melakukan kesalahan yang membuat saya murka. Apa yang membuat murka, saya pun tak mengerti. Kesalahannya sesungguhnya sangat sepele jika saya pikir menggunakan logika saya saat ini. Dia “hanya” mengambil LKS dari tas saya kemudian mencontoh semua jawaban yang ada di sana.

Saat itu, meski dia adalah teman se-bangku dan sahabat, namun dia juga adalah pesaing. Menurut saya saat itu, tindakannya adalah sebuah kesalahan besar dan saya pun murka. Entah berapa kali dia meminta maaf, namun saya tolak. Bahkan ketika wali kelas memaksa kami saling memaafkan, saya hanya menerima jabat tangan namun hati kecil masih tak juga memaafkan.

Waktu berlalu, dan di kelas 2 teman saya telah lupa kejadian itu, namun saya tak bisa melupakannya. Saya tak bisa lupa bukan karena saya masih dendam, tapi karena saya menyesal. Kenapa saya tak bisa memaafkan-nya saat itu?

Kesalahan saya ketika murka saat itu adalah, tak pernah mencoba berfikir dari sudut pandang sahabat saya. Mungkin saat itu, dia berfikir saya adalah sahabatnya sehingga mengambil sesuatu dari tas adalah hal biasa. Karena sahabat saling berbagi saling percaya. Dan ketika saya marah, mungkin dia tak menyangka saya akan marah sebesar itu. Bahkan tak mau memaafkan, meski ribuan permintaan maaf dan penyesalan diucapkannya. Dan mungkin dia berkata dalam hati, “Saya mengira, kita sahabat. Ternyata selama ini, kamu tak menganggap-ku demikian.”

Sejak saat itu, saya tak lagi berani untuk murka pada seseorang terlebih pada orang terdekat. Ketika terlanjur marah dan emosi, beberapa saat kemudian, saya akan sibuk untuk meminta maaf, diluar siapapun yang memulainya. Dan saya tak akan bisa berhenti memikirkan-nya sampai akhirnya dimaafkan.

Tapi bagaimana jika kesalahan itu dilakukan oleh saya?

Itulah yang terjadi hari ini dan beberapa pekan yang lalu, juga beberapa bulan yang lalu.

Saya merasakan bagaimana menjadi orang yang harus berkata, “Maafkan saya, saya tak bermaksud melakukannya.”

Siang ini, saya memesan makanan menggunakan GO-FOOD. Butuh waktu lama hingga hampir setengah jam untuk mendapatkan driver yang bersedia. Beliau menelpon dan meminta waktu agak lama untuk menuju tempat makan karena kondisi hujan. Dan saya setuju.

Setengah jam berlalu, namun tidak ada pergerakan sedangkan perut dan kepala sudah terasa sakit. Berkali-kali saya lihat HP namun tidak ada progress dan akhirnya, saya cancel dengan alasan terlalu lama menunggu. Namun tak lama, HP saya berdering.

Driver GO-JEK menelpon saya dan kecewa karena saya meng-cancel. Katanya, dia sudah basah susah payah dan hujan-hujanan menuju tempat makan tapi tiba-tiba di-cancel sepihak. Dia pun marah. Saya berusaha minta maaf dan bertanya, adakah yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kembali order. Namun Driver tersebut sudah terlanjur kecewa dan marah besar. Dia meluapkan kemarahannya.

Saat itu, saya dalam posisi yang salah. Seharusnya saya menelponnya lebih dulu atau sms lebih dulu sebelum meng-cancel pesanan. Dan saya berusaha meminta maaf menanyakan apa yang bisa saya lakukan. Namun ternyata, sang Driver sangat kecewa berat. Dia tak menuntut apapun, tapi juga tak menerima maaf. Dia terus meluapkan kemarahannya.

Cukup lama dia meluapkan kemarahan dan menutup telpon.

Saya tidak bisa menunjukkan apapun yang bisa membuktikan bahwa saya menyesal dan tak bermaksud melakukannya. Saya coba hubungi Call Center GO-JEK, namun pihak GO-JEK pun tak bisa melakukan apapun karena pesanan saya belum dibeli. Saya hanya bisa meminta maaf. Dan sayangnya, tak semudah itu untuk mendapatkan maaf.

Dan sampai saya menulis ini, saya masih merasa bersalah.

Kejadian ini, mengingatkan saya akan kesalahan saya beberapa bulan sebelumnya. Kesalahan yang lebih besar. Kesalahan yang tak akan mudah dimaafkan hanya dengan berkata, “Maaf, saya tidak bermaksud melakukannya.”

 

Karnaval Besar dan Pak Gubernur

Hari ini, adalah momen besar, momen dimana mayoritas masyarakat bergembira. Momen dimana sebuah karnaval besar tengah berlangsung. Saya menyebutnya karnaval besar karena bukan hanya merupakan sebuah hari besar, tapi dirayakan oleh begitu banyak manusia di seluruh dunia. Sangat besar. Tidak ada karnaval sebesar ini di jagad raya.

Karnaval ini bahkan dimulai beberapa bulan yang lalu atau bahkan mungkin beberapa tahun yang lalu. Dimulai saat masyarakat memasuki antrian yang sangat panjang untuk mendapatkan “porsi”. Sebuah istilah yang menandakan seseorang mendapatkan kepastian untuk menuju tanah suci. Sesuatu yang sangat sakral. Sakral tidak hanya karena perjalanan menuju tempat paling suci tapi menjadi makin sakral karena tidak semua bisa berpartisipsi.

Namun karnaval ini sungguh hebat. Pada saat sebagian jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul di satu tempat, bergerak seirama dengan warna pakaian yang sama, sebagian ratusan juta yang lain di seluruh dunia juga ikut bergembira. Tak terkecuali Indonesia.

Bangsa yang dihuni oleh ratusan juta umat muslim ini, tak pernah kalah dalam meramaikan karnaval besar ini.

Menjelang puncak karnaval, di Indonesia, suasana karnaval makin terasa. Kita akan melihat begitu banyak kandang-kandang darurat didirikan. Begitu banyak kambing dan sapi bertebaran hampir di setiap sudut dilengkapi dengan aroma khas-nya tentu saja. Mungkin itu membuat kita harus menutup hidung atau setidaknya sedikit mengecilkan lubang hidung. Namun disanalah letak kekhasan dari karnaval ini. Tak mungkin membayangkan karnaval besar ini tanpa fitur tersebut.

Dan menjelang malam hari puncaknya, takbir bergema dimana-mana. Semalam suntuk! Saling bersahutan seolah saling beradu, berkompetisi melalui pengeras-pengeras suara. Mungkin itu membuat kita tidak bisa tidur, tapi itulah kekhasan lainnya dari karnaval besar ini.

Dan paginya, masyarakat berkumpul. Di masjid-masjid dan di lapangan-lapangan, berjejer sajadah warna warni. Manusia menyemut dengan pakaian yang bersih. Mereka bertakbir, rukuk dan sujud. Kemacetan pun dimana-mana karena jalan-jalan ditutup. Dan itulah kelanjutan dari kekhasan karnaval besar ini.

Tak lama kemudian, masyarakat bahu-membahu menyembelih kambing dan sapi. Memotong-nya. Dan membagikannya. Dari satu untuk yang lainnya. Sebuah keindahan berbagi terjadi. Sesuatu yang diniatkan untuk Ilahi, dinikmati oleh insani.

Dan akhirnya,dimanapun kaki melangkah aroma nikmat akan tercium. Tidak hanya dirumah-rumah besar, namun juga di rumah-rumah kecil bahkan di gubuk-gubuk reyot, semua tercium aroma yang sama.

Inilah karnaval besar.

Dan karnaval besar ini tidak akan menjadi karnaval besar ketika salah satu tahap hilang. Karnaval besar ini, akan kehilangan kekhasannya ketika atas nama apapun, salah satu kekhasannya harus dilenyapkan.

Sayangnya, itulah isu yang tersebar di ibukota negara, jakarta. Atas nama kesehatan, kekhasan karnaval besar ini terancam hilang.

Tentu saja alasan tersebut tidak salah. Bahkan sangat benar karena kambing dan sapi yang diikat dijalanan tidak hanya kotorannya bisa mengganggu kesehatan, tapi kehadirannya juga mengganggu estetika. Apalagi menyembelih hewan dan darahnya dibuang sembarangan, kemudian proses pembersihannya juga dilakukan disembarang tempat, tentu tidak hanya tidak sehat untuk lingkungan, namun dagingnya pun rawan tercemar. Jadi, pemikiran Bapak Gubernur Jakarta tidak salah. Namun..

Namun cara beliau menyelesaikan masalah yang menurut saya salah.

Ini adalah sebuah karnaval besar! Lebih besar dari hajatan Jakarta Fair. Lebih besar dari pesta rakyat yang pernah dibuat gubernur sebelumnya yang kini jadi presiden. Jauh lebih besar dari itu semua.

Yang harusnya gubernur lakukan adalah, bukan melarang masyarakat berjualan kambing dan sapi di jalanan. Bukan juga melarang masyarakat menyembelih hewan sembarangan. Tapi yang seharusnya dilakukan adalah, memfasilitasinya! Gubernur selayaknya memberikan tempat-tempat sementara untuk berjualan, sehingga lebih tertib. Gubernur juga semestinya menyediakan alat atau fasilitas agar semua penyembelihan hewan dimanapun itu dilakukan, bisa lebih sehat. Karena Pak Gubernur, jika semua itu dipindahkan ke tempat jagal, maka ini tidak lagi menjadi karnaval besar.

Pertanyaannya, apakah itu bisa?

Tentu bisa. Jika dulu gubernur bisa memfasilitasi pedagang kaki lima di acara pesta rakyat, kenapa sekarang tidak? Lagian karnaval besar ini hanya setahun sekali.

Jadi, tidak selamanya hal-hal baik itu, harus dikomunikasikan dengan konfrontasi dan maki-maki. Masih ada kok ruang kompromi.

So, semua tergantung niatnya.

Selamat Hari Raya Iedul Adha, Hari Raya Qurban, Hari Raya Haji, Karnaval Besar..

Obrolan Imajiner Scientist dan Saya

Pernah suatu hari saya menyimak sebuah acara di channel National Geography tentang Science (Sains / ilmu pengetahuan). Di acara tersebut, seorang pembawa acara yang juga seorang scientist cukup terkenal duduk bersama seorang pendeta membahas tentang bagaimana interaksi seorang yang religius terhadap Science. Pendeta tersebut berasal dari ordo Jesuit, sebuah bagian dari keluarga besar Katolik yang mengabdikan diri untuk pendidikan, riset Science dan juga kebudayaan. Bisa dikatakan, Pendeta tersebut adalah seorang scientist yang religius. Dan tentu saja, pembawa acara yang juga scientist terkenal itu adalah seorang atheis.

Dalam acara tersebut, pembawa acara mempertemukan dua pendapat yaitu pendapat koleganya yang dia menyebutnya sebagai Santa-nya orang-orang atheis dan pendapat dari pendeta, tentang bagaimana mungkin seorang yang menggunakan logika sebagai pijakan berfikir namun tetap mempercayai atau beriman terhadap sesuatu yang tidak bisa diterima dengan logika atau religius? Dan karena pembawa acara adalah seorang atheis, tentu saja diskusi tersebut sedikit berat sebelah meski pembawa acara secara elegan tetap berusaha tampil berimbang.

Saya tidak akan mengomentari apa yang mereka perbincangkan, karena itu akan sangat panjang dan lebar. Namun yang menggelitik saya adalah tema dari acara wawancara atau diskusi tersebut. Bagaimana sang pembawa acara sangat heran dan tidak percaya bahwa seorang yang mengaku scientist namun tetap berbaju seorang pendeta yang religius. Dan tentu saja, hati saya secara otomatis berpihak pada pendeta Jesuit tersebut.

Mungkin jika saya berada di tempat tersebut, akan terjadi dialog imajiner berikut:

Saya: Mengapa seorang yang religius tidak bisa menjadi scientist dalam pandangan anda?

Pembawa Acara: Karena scientist harus benar-benar menggunakan logika. Dia harus memulai dari keadaan skeptis. Dan hanya mempercayai apa yang bisa dibuktikan secara ilmiah bukan keyakinan.

Saya: Jadi yang membedakan adalah, dari mana seseorang tersebut memulai? Seorang religius memulai dengan sebuah keyakinan sedangkan anda berpendapat scientist harus memulai dari keadaan tidak yakin. Benarkah begitu?

Pembawa Acara: Ya. Benar seperti itu. Dan itulah kenapa seorang yang memiliki keyakinan ketuhanan akan sulit untuk menjadi scientist karena logika berfikirnya sudah terlanjur terpola.

Saya: Lalu bagaimana seorang scientist harus memulai?

Pembawa Acara: Dia harus memulai dengan mempertanyaan segala sesuatu. Misal, ketika sebuah apel jatuh dari pohon, dia harus memulai dari mempertanyakan kenapa apel jatuh dari pohon itu ke bawah, bukan ke atas. Jika seorang yang religius, maka dia akan mengatakan bahwa itu sudah kehendak Tuhan karena dia dituntut oleh keyakinannya seperti itu. Dan cerita apel jatuh akan selesai di sana.

Saya: Dalam agama yang saya yakini, manusia sering kali ditantang oleh Tuhan. Hal itu tertulis dalam kitab suci kami. Banyak ayat-ayat menantang manusia untuk berfikir. Menantang manusia untuk melihat lebih dalam terhadap sesuatu. Dan Tuhan sering kali menyampaikan fakta yang diluar nalar kita sekaligus menantang untuk mebuktikannya. Anda tahu tentang itu?

Pembawa Acara: Oh, benarkah? Saya tidak tahu ada agama yang seperti itu.

Saya: Hee, tak masalah. Saya paham posisi anda. Karena anda sudah dibentuk untuk selalu skeptis. Dan hei, kenapa kata skeptis jadi terdengar seperti sebuah doktrin?

Pembawa Acara: Hahaha..

Saya: Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan, haha.. Tapi begitulah agama yang saya pelajari. Ia menuntut kami untuk berfikir. Menuntut kami untuk lebih aware terhadap bagaimana air hujan terjadi, bagaimana gunung-gunung disusun, bagaimana manusia dalam rahim terbentuk, bagaimana bintang dan planet berputar dan bagaimana alam semesta ini diciptakan dan masih banyak lagi. Bahkan kami ditantang untuk melintasi ruang angkasa.

Pembawa Acara: Benarkah? Anda tidak sedang menceritakan kisah di film fiksi ilmiah kan? Hahaha..

Saya: Mirip. Tapi seperti itulah. Anda bisa buktikan sendiri kalau mau. Silahkan baca kitab suci kami. Jadi ketika anda memberi contoh tentang apel jatuh, itu adalah hal yang kecil dari tantangan yang Tuhan berikan kepada kami.

Pembawa Acara: Saya tidak percaya. Anda tahu itu? Itu tidak mungkin.. Hahaha..

Saya: Ya, saya tahu karena anda sudah ter-doktrin sikap skeptis. Hahaha..

Pembawa Acara: Hahaha..

Saya: Dan kalau boleh saya merangkum diskusi kita, karena blog saya ini sudah kepanjangan, hal yang membedakan antara anda dan saya adalah; anda memulai riset dengan tidak meyakini apapun sedangkan saya memulai riset karena saya diperintahkan untuk melakukannya.

Pembawa Acara: Tapi saya tidak yakin, berbekal keyakinan anda, anda akan objective. Misalkan, jika anda menemukan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinan agama anda, apakah anda akan mengakui hasil riset anda tersebut?

Saya: Bagaimana jika kita balik. Jika anda menemukan suatu hasil riset, apakah anda menjadi yakin? Tidak lagi skeptis? Dan berhenti sampai di sana?

Pembawa Acara: Hahaha.. Tentu tidak..

Saya: Berarti tidak salah jika saya akan jawab pertanyaan anda tadi dengan mengatakan, saya akan terus melakukan riset hingga apa yang menjadi keyakinan saya terbuktikan.

Pembawa Acara: Hahaha..

Saya: Bukankah scientist harus seperti itu? Tidak boleh berhenti berfikir? Hahaha..

Pembawa Acara: Hahaha..

Dan karena sudah kepanjangan, saya pun buru-buru pamitan di acara tersebut.

Jangan serius gitu ah.. 😀

Keriuhan Ramadhan

Dan..

Separuh tahun 2015 telah terlewati, begitu saja..

Dan..

Bulan Ramadhan kembali menyapa..

Dan saya tertunduk malu karena membiarkan ruang blog ini hampa..

Tapi ya sudahlah, tak perlu disesali 😀

Bulan Ramadhan, seperti bulan-bulan Ramadhan sebelumnya, selalu dimulai dengan keriuhan persiapan sholat Tarawih. Bahkan keriuhan sudah dimulai sejak pukul 3 sore, setidaknya nampak di sepanjang jalan di Jakarta yang, macet! Mobil-mobil dan kendaraan lain tumplek blek di jalan raya karena pengendaranya ingin segera pulang. Mereka segera ingin melakukan persiapan untuk menyambut Ramadhan dengan keriuhan pertama, sholat Tarawih.

Keriuhan pertama akan segera dilanjut dengan keriuhan kedua, Sahur! Dimulai pukul 3 pagi, corong masjid-masjid akan bergema teriakan-teriakan sahur. Baik yang bersuara merdu hingga serak-serak becek saling beradu nyaring. Kemudian suara-suara perkusi pun saling bersambut. Berkeliling dengan suara ala kadarnya. Tanpa nada tanpa tempo teratur. Tak mengapa, karena tujuannya untuk membangunkan, bukan menina-bobokan.

Dan keriuhan pun masih berlanjut. Setelah sholat dhuhur, masjid dan mushola disegala penjuru, akan beradu ceramah. Baik yang di sekitar perumahan maupun di perkantoran. Baik yang kuliah tujuh menit maupun kajian 2 jam. Semua berusaha menyajikan ilmu-ilmu yang sering diulang-ulang, yang anehnya, meski tiap tahun diulang, banyak manusia yang belum juga mengingatnya, menguap, menghilang.

Keriuhan belum selesai, bahkan mencapai puncaknya saat matahari mulai tenggelam. Saat mega merah mulai nampak, manusia dengan segala kendaraan yang mereka punya, tumpah ruah bagai lebah, menyusuri jalanan mencari sajian pembuka. Tatkala azan magrib berkumandang, seolah pesta, mereka menyantap hidangan dengan penuh suka cita.

Dan keriuhan-keriuhan itu akan terus berputar dan mencapai puncaknya di akhir Ramadhan.

Dan seperti itulah Ramadhan. Yang menurut saya, selayaknya dirayakan dan selayaknya dinantikan.

Jika seandainya keriuhan-keriuhan itu dianggap dangkal, tidak menyentuh esensi dari Ramadhan, hanya riasan-riasan diwajah, maka ingin saya katakan, biarkanlah. Setidaknya, mari buat Ramadhan itu mengembirakan untuk semua orang. Mari buat Ramadhan menjadi suka cita bagi anak-anak, remaja-remaja, ibu-ibu, bapak-bapak hingga mereka yang sepuh. Mari kita buat, anak-anak merindukan Ramadhan. Mari kita buat, seluruh manusia, tak peduli ras-nya dan tak peduli agamanya, mencintai Ramadhan, seperti seorang Kyai yang mencintai Ramadhan.

Karena Ramadhan menurut saya, adalah bulan yang berbahagia, bulan suka cita.

Lalu, kapan ibadahnya?

Loh, memangnya tidak boleh beribadah dalam suasana suka-cita dan berbahagia? Karena percayalah, jauh lebih mudah mengajak orang yang sedang berbahagia.

🙂

Ketika yang Ada di Kepala Tak Berdaya

Betapapun manusia memiliki kemampuan logika berfikir, nyatanya manusia tak mampu mengalahkan kehendak hati.

Ah, lebay..

Mungkin saya terlalu berlebihan dalam mengekpresikannya. Bahkan mungkin terlalu berlebihan ketika saya mengatasnamakan manusia, karena bisa saja, itu hanya filosofi yang berlaku pada diri saya pribadi. Dan saya berani mengatasnamakan manusia?

Yah, lupakan apa yang barusan saya katakan..

Tapi itu sungguh terjadi. Sudah hampir 2 tahun apa yang ada di kepala ini telah dikalahkan oleh apa yang ada di dalam dada. Kemampuan logika tumpul hanya karena ada yang bergolak di dalam hati.

Jika sebelumnya saya bisa menghabiskan banyak buku hingga rak tak lagi bisa menampungnya, kini hampir tak ada buku yang saya beli. Jika sebelumnya saya bisa bergadang untuk mengerjakan project website, kini tidur adalah hal paling ditunggu. Jika sebelumnya saya bisa menulis di beberapa blog, kini untuk menampakkan kehidupan di blog “narsis” ini saja sangat sulit.
Bahkan untuk membayangkan mimpi-mimpi, keinginan-keinginan dan target-target yang sebelumnya muncul bertebaran di kepala, kini terasa sulit.

Singkatnya, jangankan berjalan, rasanya saya tidak melangkah sama sekali!

Jadi.. Menurut saya, sehebat apapun logika anda, sejenius apapun otak anda dan sekuat apapun tubuh anda, semua akan lenyap, tak lagi berarti jika apa yang ada di dalam dada anda bergolak, tidak stabil.

Lucu.. Terkadang, meski hanya sesaat, saya menertawakan betapa lemahnya apa yang ada di kepala saya..

Malas, Pemalas Dan Kisahnya

Kali ini, saya akan menulis tentang sesuatu yang ‘ngaco’ dengan cara yang ‘ngaco’ karena saya sedang ‘ngaco’.

Malas. Bagaimana ‘Malas’ bekerja?

Maksudku bukan bagaimana cara pemalas bekerja, tapi bagaimana sifat atau rasa ‘malas’ bekerja. Mengapa saya menulis tentang malas? Karena akhir-akhir ini, saya terjangkit virus ‘malas’!

Saat seseorang diajak atau diminta melakukan sesuatu kemudian menjawab, “Malas ah!”, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama orang itu ingin menolak dengan cara halus -meski sebenarnya gak halus juga sih-, yang kedua orang itu memang benar-benar sedang ‘malas’.

Atau kasus lainnya. Seseorang memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Tapi yang dilakukan orang itu malah tidur. Alasannya, sedang ‘malas’. Kalo ini, orang itu memang benar-benar sedang ‘malas’.

Dan ternyata, orang pada umumnya menganggap, kata malas itu identik dengan kata tidur!

Saya ambil contoh Pak Ogah di serial anak Si Unyil. Pak Ogah adalah tokoh pemalas. Ciri khasnya adalah suka tidur di pos ronda di saat yang lainnya bekerja. Jadi, bisa dikatakan, orang yang suka tidur, disebut pemalas.

Tapi sejujurnya, saya tidak setuju!

Malas tidak identik dengan tidur. Malas ya malas, tidur ya tidur.

Contohnya, ada seorang anak yang hobinya main game. Saat Ibunya menyuruhnya tidur, anak tersebut akan menjawab, “Malas ah!”. Dan biasanya, tak lama ada suara jerit kesakitan karena kuping si anak merah bekas dijewer.

Nah, terbuktikan? Malas tidak identik dengan tidur.

Jadi orang yang punya hobi tidur, tak perlu takut disebut pemalas! Hee..

Pasti penulisnya punya hobi tidur!
Betul! Hee..

Dari sini, saya mengambil kesimpulan, ‘malas’ itu terjadi saat seseorang meninggalkan kegiatan yang penting atau lebih penting dan lebih memilih kegiatan lainnya yang tidak terlalu penting atau kurang penting.

Nah, seseorang disebut pemalas, jika orang tersebut, dalam kesehariannya, lebih suka dan sering mengerjakan kegiatan yang kurang penting dibanding kegiatan yang lebih penting.

So, gimana definisi ‘malas’ versiku? Mantap kan? Hee..

Lalu, bagaimana proses ‘malas’ terjadi pada seseorang?

Prosesnya begini:

Si A mendapat tugas dari Bos-nya dikantor. Si A menerima dan sudah membuka tugas itu di komputernya. Saat Si A mengerjakan tugasnya, dia merasa jenuh dan letih. Dengan alasan re-freshing, si A membuka salah satu harian online. Dan tanpa terasa, waktu berlalu sangat cepat. Saat si Bos datang meminta hasil tugasnya, si A belum menyelesaikannya.

Nah! Si A bisa saya nyatakan sedang terjangkit virus ‘malas’!

Jadi…

Penyakit malas mudah dipicu oleh kegiatan-kegiatan lain yang menyenangkan, tidak menjenuhkan dan memunculkan rasa ingin tahu.

Terus, gimana cara menyembuhkan penyakit ‘malas’?

Setidaknya, saya tahu salah satu obat untuk menyembuhkan ‘malas’, terutama untuk orang yang malas dengan pekerjaannya.

Tinggalkan pekerjaan itu, dan beralihlah pekerjaan yang sesuai dengan hobi!

Kenapa begitu? Karena, kegiatan yang melibatkan hobi, pasti akan menyenangkan dan tidak menjenuhkan! Jadi, kita tak akan pernah bosan dan otomatis, kita tak akan malas.

Apakah itu bisa berhasil?

Kalau itu, saya juga gak tahu. Wong saat ini saya juga sedang terjangkit virus ‘malas’ dan belum sembuh-sembuh juga!

Hee..

Ah sudah ah.. Semoga menghibur..
Oya, sebentar lagi dah mau puasa lagi..

Jurnal Ramadan Hari 15 : Ucapan Terima Kasih Hingga Kejar Paket C

Tadi pagi saya sahur di Warteg terdekat…

Tenang, tidak ada kejadian aneh semisal tiba-tiba penjual bilang, “Selamat, anda dapat kejutan makan gratis seumur hidup!”. Atau tiba-tiba ada sinar putih terang dari angkasa yang dipancarkan oleh sebuah pesawat berbentuk piring raksasa dan bilang, “Ini adalah cincin pembela kebenaran. Jika kamu memakainya, kamu akan menjadi pahlawan super!”. Bukan..

Hanya sebuah percakapan kecil dan biasa, dan pasti terjadi di warung di manapun. Yaitu, pembeli membayar hidangan yang ia makan dan penjual mengucapkan, “Terima kasih” yang dijawab pembeli “Ya.”

Tidak ada yang aneh kan…

Tapi ternyata tidak untuk telinga dan hati serta jiwaku –ini agak lebay sedikit. Well, sebenarnya, bagian yang menurutku aneh adalah jawabannya. Entah kenapa, jawaban singkat padat, “Ya” itu terdengar aneh untuk merespon ucapan terima kasih. Rasanya ada yang kurang.

Dan karena itulah, akhirnya ku tulis status di Facebook:

Apa jawaban atau respon anda ketika ada yang mengucapkan “Terima kasih” pada anda?
– Saya: “Terima kasih” Hehehe.. Persis cermin.. mantulin..

Tak lama, beberapa friend merespon dengan komentar.

Dan yang menarik, dalam bahasa Inggris, ucapan “Thank you”, memiliki beberapa variasi jawaban, “You’re very welcome”, It’s a pleasure”, “Don’t mention it” dan lain-lain. Lihat di sini: http://www.youtube.com/watch?v=3henFSz6258

Jadi, di negeri seberang sana, terbiasa menjawab ucapan terima kasih dengan mengembalikan ucapan terima kasih yang sama atau lebih besar. Atau mengatakan bahwa tidak perlu berterima kasih karena memang selayaknya mendapatkannya.

Di indonesia pun sebenarnya sama. Biasanya jawabannya adalah “Sama-sama”, “Terima kasih juga”. Dalam bahasa Jawa, “Matur Nuwun”, akan dijawab “Sami Sami”, demikian pula dalam bahasa Sunda, “Hatur nuhun” juga dijawab “Sami Sami”.

Mungkin itu yang menyebabkan telinga saya merasa aneh mendengar jawaban “Terima kasih” dengan “Ya”.

Salah satu komentar dari Moi Kusman  pada status saya:

Barangkali ya, Rahmad. Rasanya kita harus belajar menjawab ‘terima kasih” dengan lebih baik lagi. Sering saat orang berterima kasih pada kita, sebenarnya kitalah yang seharusnya berterima kasih pada mereka, karena kalau tidak ada mereka, kita tidak punya kesempatan u/ berbuat baik. Malah, sebaiknya sering2nya berterima kasih. Kalau murid berterima kasih pada murid, gurupun harus berterima kasih pada murid karena: 1. telah hadir, 2. mendengarkan “khotbah”nya, 3. menjadi saluran berbagi ilmu yg konon terus mengalir pahalanya saat guru itu tiada, 4. dll, 5. dll, 6. dll.

Dan jika dikembalikan ke Al-Qur’an:

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (ar-Rahman: 60)

Ah! Pantas saja saya merasa ada yang aneh mendengar percakapan singkat dan sederhana antara penjual dan pembeli di Warteg.

Dan bicara tentang Terima Kasih, saya teringat dengan kejadian kemarin malam setelah Isya’. Seperti biasa, saya mengirimkan buku pesanan. Ya, saya masih setia untuk menjual buku tutorial yang saya tulis, terbit dan jual sendiri, yaitu buku Kitab VBA Excel Level Satu. Kata orang-orang sih namanya Self Publishing. Nah, jika ada yang berminat, silahkan ditengok di Kaskus : http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=13713751.

Dan.. Melanjutkan cerita, saya pun masih setia untuk mengirimkan buku pesanan melalui agen kurir terdekat.

Seperti biasa –yang ini sebuah kebiasaan baru–, saya membawakan tulisan saya tentang Cara Belajar MS Excel untuk penjaga agen kurir tersebut. Sejujurnya, saya seperti ketagihan untuk membawakannya tulisan. Terutama saat melihat dan mendengar penjaga tersebut begitu senang dengan mata berbinar-binar dan senyum yang sumringah. Berkali-kali dia bilang terima kasih yang malah membuat saya jadi tidak enak hati.

Saya bukan memberinya uang, bukan juga memberikannya pekerjaan dengan gaji puluhan juta. Saya hanya memberikan tulisan-tulisan yang saya tulis sendiri dan print, yang tulisan itupun hanya berisi cara belajar MS Excel! Itu adalah sesuatu hal yang remeh untuk semua teman-teman yang saya kenal. Sebuah ilmu yang sudah umum dikuasai orang-orang di sekitar saya. Namun bagi penjaga itu, apa yang saya bawakan seperti sebuah berlian ribuan karat. Tentu saja saya jadi merasa tak layak mendapatkan ucapan terima kasih yang terlalu berat itu.

Dari perbincangan sebelumnya, saya tahu dia hanya lulus SMP (MTs) dan saya pun sudah tahu alasannya tidak melanjutkan sekolah yaitu masalah uang. Saya tahu itu klise, alasan umum yang sering dipakai oleh orang-orang yang memang malas untuk sekolah saat muda, dan kemudian menyesal saat tua. Namun saat dia bilang pernah bertanya pada salah satu pelanggannya yang seorang Mahasiswa, “Bisa gak ya kuliah pake Ijazah SMP?”

Jleb!

Saya tidak tertawa.

Saya malah merasa, seolah ada pisau yang menancap di dada. Dengan jawaban itu, saya bisa membuat beberapa penilaian. Pertama, dia benar-benar polos! Betapa banyak informasi di zaman informasi ini yang belum menyentuhnya. Ketika yang lain ribut tentang Partikel Tuhan (Higgs Boson), dia bahkan belum memahami tentang tingkatan pendidikan.

Salah siapa ini?

Saya tidak akan bertanya pada Ebiet G. Ade karena dia akan menyuruhku bertanya pada rumput yang bergoyang. Bukannya apa-apa. Di sekitarku sudah tidak ada rumput, apalagi yang bergoyang.

Dan yang kedua, penjaga itu berkata dengan jujur apa adanya. Akhirnya saya pun bertanya “Kenapa gak coba Kejar Paket C dulu, abis itu Ijazahnya bisa buat masuk kuliah.”

“Iya, Mas. Saya pernah denger tentang Kejar Paket C, tapi di mana ya tempat terdekat sini? Trus yang bisa sambil kerja. Kalau Sabtu sore dan Minggu, saya bisa.”

Kebetulan, beberapa pekan yang lalu, saya pernah berbincang dengan teman saya yang hebat, tentang Kejar Paket C. Saya bilang hebat, bukan karena dia pejabat, menteri atau orang “besar” lainnya. Tapi ada dari pengalaman hidupnya yang menurut saya luar biasa. Saya akan menceritakannya di tulisan berikutnya.

Nah, sayangnya, lokasi Kejar Paket C yang diceritakan teman saya itu sangat jauh. Jadi, saat itu saya pun berucap janji “Coba nanti saya cari-cari informasi tentang Kejar Paket C di sekitar sini..”