Penjual Bakso, Jaminan Kesehatan dan Jakarta

“Satu ya, Mas!”, seruku dari punggung beberapa orang yang sedang sibuk memilih bakso. Penjual Bakso itu menatapku sesaat kemudian mengangguk dan kembali sibuk melayani pembeli.

Setelah merasa yakin pesanan diterima, saya pun mencari kursi di sekitar halte sambil berharap cemas kalau-kalau giliranku diserobot.

Yang ku beli adalah Bakso Malang.

Sedikit berbeda dari penjual bakso malang biasanya yang menggunakan gerobak, penjual yang ini berjualan menggunakan motor. Ia letakkan etalase, kompor dan sebagainya di kursi belakang motornya. Kemudian dia parkirkan tepat di depan halte seberang Stasiun Kereta Api.

Ia parkir di sana bersama sederetan para pedagang kaki lima lainnya.

Dan inilah saya, inilah Jakarta.

Inilah saya yang terbiasa makan sajian pinggir jalan yang saya percayakan seluruh ke-higenisan dan kehalalan pada si penjual. Dan inilah Jakarta, tempat berkumpulnya manusia-manusia yang selalu ingin berhemat yang bersimbiosis mutualisme dengan manusia-manusia yang ingin bertahan hidup.

Tentu bukan saya, jika ada seseorang yang merasa risih menyantap sajian pinggir jalan. Dan akan menjadi bukan Jakarta saat simbiosis mutualisme itu lenyap.

Inilah saya, bagian dari kebanyakan manusia di Jakarta, yang seakan tak membutuhkan penguasa untuk menjamin higenitas dan kehalalan sebuah produk tapi cukup meletakkan kepercayaan pada para pedagang kaki lima yang legam bersimbah keringat.

Mereka, para pedagang itu, tidak mungkin mengikuti peraturan penguasa untuk mendaftarkan produknya pada BPOM atau mendaftarkan kehalalan produknya pada Halal MUI. Mereka berada di sebuah wilayah awang-awang. Antara ada dan tiada.

Mereka ada, karena saya selalu bisa menemukan mereka. Tapi mereka tiada di dalam daftar pencari nafkah yang layak di layani oleh penguasa.

Saat ruangan sejuk dan kursi empuk siap melayani para pengusaha berlimpahkan dana, maka tatapan sangar pamong praja yang siap melayani para pedagang kaki lima. Tatkala mereka yang berdaya dicari-cari penguasa untuk membangun negara, maka pedagang kaki lima hilang dari catatan karena ia seolah beban bagi negara.

Entah bagaimana caranya, saya merasa seolah penguasa bicara pada saya dalam sebuah bisikan, “Jika engkau ingin agar dijamin kesehatanmu, maka belilah produk yang terdaftar dan dijamin oleh BPOM!” Dan jika itu kuturuti, maka cepat hilang lembaran biru dari kantung celanaku dan makin berkibar para pedagang putih bersih berjas dan wangi itu.

Dan inilah saya, salah satu manusia di Jakarta yang berharap lembaran biru mampu menghidupi tidak hanya sekali tapi tiga kali bahkan sepuluh kali jika perlu. Dan itulah yang membuat manusia-manusia sepertiku, tak mau mendengar bisikan penguasa dan meletakkan kepercayaan sepenuhnya pada pedagang kaki lima.

Dan inilah Jakarta, tempat indah yang mempertemukan mereka yang saling membutuhkan. Ia mempertemukan saya dengan pedagang kaki lima yang mampu memberiku jaminan bahwa lembaran biru terasa sangat berharga. Ia mempertemukan kita untuk bertahan hidup di bawah segelintir kaki-kaki yang haus akan kuasa.

Inilah saya, inilah Jakarta..

Karena warna Jakarta bukan penguasa. Warna Jakarta adalah warganya.

 

*note: saat blog ini ditulis, lembaran biru bernilai 50.000

 

Mudik, Tol Lampung, Janji Manis dan Keselamatan

Jika ingin lancar mudik ke Lampung, berangkatlah 1 hari sebelum Lebaran!

Itu adalah fakta yang saya dapatkan 1 tahun yang lalu dan saya coba konfirmasi lagi di tahun ini. Dan hasilnya, confirmed!

Titik yang paling membuat frustasi pemudik menuju Lampung dan Sumatera lainnya adalah antrian yang super panjang di Pelabuhan Merak. Kita dipaksa untuk parkir berjam-jam bahkan hingga seharian jika perlu untuk menunggu giliran diseberangkan oleh kapal Ferry.

Dan titik berikutnya adalah perjalanan menuju Bandar Lampung karena melalui jalan yang naik turun. Yang memperlambat adalah kendaraan yang berat yang sulit menjaga kecepatan saat menanjak seperti Bus dan Truk. Untungnya, Truk sudah dilarang beredar semasa hari-hari mudik, tapi toh masih ada Bus yang akan bersusah payah untuk mendaki.

Tapi..

Satu hari sebelum Lebaran, kondisi itu tak begitu nampak.

Jalanan bebas dari Truk dan bebas juga dari para pesaing sesama pemudik. Sehingga jalanan lebih lengang atau setidaknya sama dengan kondisi normal.

Dan bahkan saya tidak perlu melewati jalan Tol Lampung yang dulu katanya bisa digunakan untuk mudik Lebaran!

Eh, mm..

Faktanya jalan tol tidak bisa digunakan untuk mudik Lebaran tahun ini. Entah kenapa pemerintah bisa begitu PeDe nya mengatakan 13 Km Tol Lampung bisa mengurangi beban mudik Lebaran. Kenyataanya, banyak jembatan yang belum selesai sehingga mustahil dilewati. Seandainya pun bisa, tapi itu sungguh memaksakan.

Tapi mungkin rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan segala hal yang bersifat darurat.

Jika kita membandingkan dengan negara maju.. Hmm.. Negara mana ya? Wong saya gak pernah kemana-mana he..

Oke deh, kita bandingkan dengan peraturan perusahaan yang berasal dari negara maju. Kalo ini, saya pernah berada di dalamnya, jadi lebih valid.

Perusahaan-perusahaan dari negara-negara maju, pasti akan berusaha menerapkan sistem keselamatan dengan standar yang sama entah itu di negara asalnya maupun di Indonesia. Meskipun terkadang mental anak bangsa ini belum siap menerimanya sehingga pelaksanaannya amburadul, tapi peraturannya sama.

Misalnya, hanya karena ada sebuah rambu keselamatan yang tidak terpasang, sebuah pekerjaan akan dihentikan hingga rambu itu terpasang!

Bisa dibayangkan berapa kerugian sebuah perusahaan jika sebuah pekerjaan dihentikan. Tapi begitulah peraturannya. Tentu itu bukan keinginan si perusahaan, tapi peraturan yang ditetapkan oleh negara asal untuk melindungi para pekerja.

Pemerintah negara asal betul-betul menghargai nyawa pekerja sedemikian tingginya dibandingkan rupiah atau dolar. Dan pelanggaran terhadap peraturan dapat menyebabkan perusahaan didenda dengan angka yang tinggi bahkan hingga pencabutan izin usaha.

Dan untungnya, peraturan itu tidak hanya mengikat di negara asal, tapi di manapun perusahaan itu beroperasi termasuk di Indonesia.

Nah..

Mari kita bandingkan dengan keputusan pemerintah membolehkan kendaraan melewati sebuah jalan yang belum jadi. Jalan yang belum pernah di test sama sekali dan dengan rambu-rambu yang belum lengkap juga fasilitas pendukung lainnya yang minim bahkan tidak ada sama sekali.

Jika ada yang mengatakan, “Itu bukan salah pemerintah, karena pemudiknya suka rela mau menggunakannya.”, maka confirmed yang saya katakan sebelumnya.

“Mungkin rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan segala hal yang bersifat darurat.”

 

Jembatan Penyebarangan, Seorang Ibu dan Depresi

Dua pekan yang lalu, di sebuah jembatan penyeberangan yang sering saya lewati setiap pagi ada sedikit keramaian.

Seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya meronta-ronta saat beberapa laki-laki memegangi tangannya dengan erat. Ia menangis dan tak mau bergerak saat beberapa laki-laki itu berusaha membawanya turun jembatan penyeberangan.

Untuk sesaat, ada beberapa pikiran terlintas. Bahkan saya sempat berfikir, si Ibu adalah seorang penculik anak yang tertangkap! Mungkin saya terbawa oleh berita-berita yang akhir-akhir sempat mencuat tentang modus operandi penculikan anak untuk dijual organnya.

Ketika kemudian saya mendekati keramaian itu, barulah saya tahu bahwa si Ibu tertangkap basah hendak melompat dari jembatan penyeberangan. Untunglah saat itu ada bapak-bapak yang melihat dan segera menarik tangannya dan melaporkan ke sekuriti sebuah kantor terdekat.

Dan para sekuriti itulah yang memegangi tangan si Ibu dan berusaha membawanya turun.

Pagi itu, saya menyaksikan sebuah drama kehidupan.

Entah apa yang dialami si Ibu hingga berniat melompat dari jembatan penyebarangan sambil menggendong anaknya. Meski berdasarkan cerita, si Ibu baru saja bertemu dengan suaminya yang bekerja di salah satu kantor terdekat. Cerita lebih lengkap saya tidak tahu. Yang jelas, si Ibu pasti sangat putus asa hingga berniat terjun dari jembatan penyeberangan. Atau kata yang lebih tepat adalah depresi.

Penjelasan tentang depresi, ternyata cukup rumit karena melibatkan tidak hanya biologi seperti otak dan teman-temannya, tapi juga psikologi dan sosial. Namun singkat cerita, depresi tidak bisa sembuh hanya dengan satu kalimat nasehat, “Sudah lupakan saja..”

Blog ini bukan untuk mengupas depresi karena saya memiliki blog yang lebih pas untuk membahasnya. Namun di blog ini saya ingin mengatakan bahwa depresi adalah sesuatu yang harus ditanggapi dengan serius. Karena kenyataannya, seperti penyakit jantung atau penyakit kelas berat lainnya, depresi juga dapat menghilangkan nyawa manusia.

Berbeda dengan penyakit jantung yang hanya melibatkan obat-obatan dan pola hidup sehat, depresi lebih banyak bergantung pada solusi psikologi sedangkan obat-obatan seperti anti depresan hanyalah pembantu. Kepekaan sosial masyarakat juga dibutuhkan sebagai solusi penyembuhan depresi dan menghindari akibat fatal seperti bunuh diri.

Ah, kenapa tulisan saya jadi serius? Ini seharusnya blog curhat..

Hmm, dan ngomong-ngomong tentang curhat dan terkait depresi, sepertinya ini adalah hal yang nyambung.

Seseorang yang mengalami depresi, akan jauh lebih baik jika ia bisa curhat. Karena seseorang yang depresi memiliki kecenderungan tidak mau berkomunikasi dengan orang lain.

So.. Jadi gak salah kan kalo saya punya blog curhat?

 

 

Warung dan Penyandang Disabilitas

Ada sebuah warung makan yang menjadi langganan saya sehari-hari. Kenapa saya selalu kesana, no idea. Mungkin karena dekat atau mungkin tidak ada pilihan lain atau juga mungkin karena rasa masakannya pas di lidah saya. Entahlah.

Namun ada satu hal yang membuat saya merasa bahwa, seburuk apapun hari saya, ada karunia yang tak akan pernah habis untuk disyukuri.

Warung itu dimiliki oleh seorang Ibu dan dibantu oleh kakak perempuannya yang menyandang disabilitas. Sang kakak memiliki pendengaran yang sangat lemah atau bahkan mungkin tak mampu mendengar. Selain itu, ia juga memiliki keterbatasan dalam berbicara.

Pertama kali saya bercakap dengan beliau, saya sama sekali tak mampu memahami kata yang ingin ia ucapkan. Bagi saya hanya terdengar seperti suara teriakan tak bermakna. Dan jangan berharap untuk bisa memanggilnya saat beliau membelakangi kita, kecuali dengan cara sedikit menepuk pundaknya. Karena beliau menerjemahkan kalimat dengan membaca gerakan bibir kita.

Tapi kemudian, ada yang membuat saya takjub. Pemilik warung yang adalah adik dari penyandang disabilitas itu bisa bercakap dengan mudah dengannya. Bicara lirih disertai isyarat tangan, keduanya mampu berkomunikasi dengan lancar.

Warung ini memberiku pelajaran yang sangat berharga. Setidaknya, dua pelajaran berharga.

Pertama adalah sebuah ikatan kasih sayang seorang saudara.

Ibu pemilik warung yang adalah seorang adik, dengan sabar dan menerima apa adanya kondisi sang kakak perempuannya. Tidak pernah sekalipun terdengar kata yang menyakitkan keluar dari mulut sang adik.

Pernah saya mendengar keluhan dari pembeli karena sulitnya berkomunikasi dengan sang kakak. Terkadang si pembeli pun menggerutu. Dan mungkin si pembeli berfikir, kenapa pemilik warung menjadikan seorang penyandang disabilitas menjadi penunggu warung?

Tapi jika kita mau berfikir lebih jauh untuk sesaat, jika untuk sebuah momen memesan makanan saja kita sudah uring-uringan dan tidak sabar, tidak kah terbayang bagaimana orang yang harus selalu berdampingan dengannya sepanjang hidupnya? Betapa kecilnya kesabaran kita dibanding sang adik?

Dan dengan semua kelemahan itu, kita masih berani untuk sombong?

Pelajaran berharga kedua adalah, sebuah semangat hidup yang tidak pernah padam apapun kondisinya.

Sang kakak, dengan segala keterbatasannya, ia tetap semangat membantu ibu pemilik warung untuk memasak dan melayani pembeli. Dengan kemampuan komunikasinya yang bisa membuat jidat pembeli berkerut, tidak membuatnya putus asa untuk melayani. Tidak pula membuatnya menghilang esok harinya karena meratapi keterbatasannya.

Dan itulah yang membuat saya selalu merasa bersyukur setiap kali berkunjung ke warung makan kecil itu. Seburuk apapun hari yang saya jalani hari itu, saya akan mendapati alasan untuk selalu bersyukur atas karunia yang saya peroleh. Sebuah karunia yang kita tidak menyadarinya namun terkadang tidak dimiliki oleh orang lain.

Dan saat duduk di warung itu, kita pun akan tersadar bahwa ada sebuah karunia yang kita tak akan pernah berharap tercabut dari diri kita.

Oya, kini.. Meski sangat terbatas, saya bisa berkomunikasi dengan sang kakak. Setidaknya cukuplah untuk memesan es teh manis dan sepiring nasi dan lauknya.

 

Media Sosial, Perlukah?

Ketika azan Magrib berkumandang di hari Sabtu, 27 Mei 2017 yang lalu, tidak hanya saya berikrar untuk merayakan Ramadhan semaksimal mungkin, tapi saya juga berikrar untuk mengurangi semaksimal mungkin penggunaan media sosial yang tidak penting.

Ada dua jenis media sosial yang kucoba untuk perketat, Facebook, Twitter dan teman-temannya, dan aplikasi chat seperti Whatsapp dan teman-temannya.

Yang coba saya lakukan sangat sederhana..

Pertama, saya mencoba untuk tidak membuka Facebook dan Twitter sama sekali atau setidaknya menahan diri untuk tidak membukanya semaksimal mungkin. Dan yang pasti, saya juga berusaha untuk tidak melakukan interaksi melalui media tersebut, baik posting status maupun berkomentar (Catatan; mungkin artikel ini akan secara otomatis terposting ke Facebook dan Twitter karena setting dari awal).

Dan hasilnya..

Wualaa..! Saya masih sehat dan baik-baik saja..

Lalu bagaimana dengan Whatsapp dan aplikasi chat lainnya?

Whatsapp saat ini sudah menjadi alat komunikasi standar menggantikan SMS, tentu hal yang tidak mungkin bagi saya untuk tidak membukanya. Tapi setidaknya, saya mencoba untuk tidak membuka aplikasi chat yang lain seperti BBM, Line dan lainnya.

Bahkan, untuk Whatsapp pun, saya coba untuk tidak membuka grup-grup yang tidak benar-benar penting. Grup-grup yang terkait pekerjaan tentu menjadi pengecualian, tapi grup-grup lain terkadang pesan menumpuk hingga ribuan dan tidak saya baca apalagi berinteraksi di dalamnya. Terlebih grup-grup debat.

Dan hasilnya..

Wow.. Ternyata saya juga masih baik-baik saja..

Tapi kenapa sekarang masih menulis di Blog? Bukankah itu juga media sosial?

Ya, betul bahwa blog adalah salah satu jenis media sosial. Dan ini adalah salah satu media sosial yang saya keluarkan dari black list selama Ramadhan karena blog sedikit berbeda.

Hal paling membedakan adalah tidak ada timeline! Sehingga ketika saya membuka blog, maka saya benar-benar fokus dengan tulisan saya, ide-ide saya, pemikiran-pemikiran saya dan kreatifitas saya. Dan hal yang membedakan berikutnya adalah, saya pasti menulis artikel yang cukup panjang yang artinya, artikel tersebut dapat memiliki konten yang bermakna. Tidak sekedar respon singkat yang tidak penting.

Dari yang saya rasakan setelah “berpuasa” media sosial, ternyata saya baik-baik saja.

Dan saya pun jadi tahu bahwa, manfaat paling minimal ketika kita lepas dari media sosial adalah kita tetap baik-baik saja. Tidak sakit, tidak menjadi bodoh, tidak menjadi gaptek, tidak menjadi kuper dan tidak merasakan ketakutan-ketakutan lainnya.

Jadi jawaban paling sederhana dari pertanyaan pada judul artikel ini adalah “TIDAK”. Kita tidak benar-benar perlu media sosial. Yang benar-benar kita butuhkan adalah bersosial bukan menggunakan media sosial!

 

Menyambut Ramadhan

Sore itu, beberapa hari menjelang bulan Ramadhan. Karena sebuah urusan pekerjaan, saya bertemu seseorang yang akrab dipanggil pak Haji.

Sebenarnya beliau masih cukup muda untuk dipanggil pak Haji jika melihat orang-orang lain yang juga dipanggil pak Haji. Biasanya, pak Haji adalah seseorang yang rambut telah memutih, kulit sudah mulai kisut dan langkah sudah tak lagi cekatan. Tapi ini beda.

Mungkin karena latar belakang keluarga beliau yang adalah tokoh masyarakat yang disegani dari partai berlambang Ka’bah, membuat keluarga beliau cukup dekat dengan keagaamaan dan begitu sangat merindukan Ka’bah. Dan tentu tak mengherankan jika dalam usia yang masih cukup muda, keluarga beliau sudah menunaikan ibadah Haji.

Tapi bukan itu yang membuatku ingin bercerita. Tapi sesuatu yang berbeda yang kurasakan saat memasuki rumah beliau.

Ini adalah kesekian kalinya saya bertamu dan itu cukup buat saya merasakan perbedaannya. Rumah beliau nampak berbeda. Lebih cerah!

“Wah cat baru nih, pak Haji?” seruku.

“Menyambut Ramadhan..” jawabnya pelan sambil tersenyum cerah. Secerah dinding rumah.

Dan jawaban itu membuatku tertegun dan mengangguk-anguk cukup lama.

Kebanyakan orang pasti akan menghias rumah menjelang Lebaran. Mulai dari bersih-bersih total, ganti cat rumah, ganti gorden, ganti meja kursi bila perlu. Tapi di sana, di rumah pak Haji, beliau lakukan sebelum Ramadhan. Dan menurutku, itulah yang semestinya terjadi.

Dan begitulah selayaknya yang dilakukan seluruh muslim.

Berlomba-lomba menyambut Ramadhan. Menjadikan Ramadhan momen untuk membersihkan, tidak hanya membersihkan hati, tapi juga membersihkan lingkungan, membersihkan masjid, membersihkan jalanan, semuanya. Sehingga tatkala Ramadhan tiba, hati akan lebih khusuk menikmati berkah yang tiada tara ini.

Selamat menjalankan ibadah Shaum..

Kesalahan, Marah dan Maaf

Percayakah anda pada seseorang, jika suatu ketika seseorang itu melakukan kesalahan terhadap anda dan dia meminta maaf kemudian berkata, saya tidak bermaksud melakukannya?

Dulu, ketika saya masih SMP kelas 1, sahabat saya, teman se-bangku saya, melakukan kesalahan yang membuat saya murka. Apa yang membuat murka, saya pun tak mengerti. Kesalahannya sesungguhnya sangat sepele jika saya pikir menggunakan logika saya saat ini. Dia “hanya” mengambil LKS dari tas saya kemudian mencontoh semua jawaban yang ada di sana.

Saat itu, meski dia adalah teman se-bangku dan sahabat, namun dia juga adalah pesaing. Menurut saya saat itu, tindakannya adalah sebuah kesalahan besar dan saya pun murka. Entah berapa kali dia meminta maaf, namun saya tolak. Bahkan ketika wali kelas memaksa kami saling memaafkan, saya hanya menerima jabat tangan namun hati kecil masih tak juga memaafkan.

Waktu berlalu, dan di kelas 2 teman saya telah lupa kejadian itu, namun saya tak bisa melupakannya. Saya tak bisa lupa bukan karena saya masih dendam, tapi karena saya menyesal. Kenapa saya tak bisa memaafkan-nya saat itu?

Kesalahan saya ketika murka saat itu adalah, tak pernah mencoba berfikir dari sudut pandang sahabat saya. Mungkin saat itu, dia berfikir saya adalah sahabatnya sehingga mengambil sesuatu dari tas adalah hal biasa. Karena sahabat saling berbagi saling percaya. Dan ketika saya marah, mungkin dia tak menyangka saya akan marah sebesar itu. Bahkan tak mau memaafkan, meski ribuan permintaan maaf dan penyesalan diucapkannya. Dan mungkin dia berkata dalam hati, “Saya mengira, kita sahabat. Ternyata selama ini, kamu tak menganggap-ku demikian.”

Sejak saat itu, saya tak lagi berani untuk murka pada seseorang terlebih pada orang terdekat. Ketika terlanjur marah dan emosi, beberapa saat kemudian, saya akan sibuk untuk meminta maaf, diluar siapapun yang memulainya. Dan saya tak akan bisa berhenti memikirkan-nya sampai akhirnya dimaafkan.

Tapi bagaimana jika kesalahan itu dilakukan oleh saya?

Itulah yang terjadi hari ini dan beberapa pekan yang lalu, juga beberapa bulan yang lalu.

Saya merasakan bagaimana menjadi orang yang harus berkata, “Maafkan saya, saya tak bermaksud melakukannya.”

Siang ini, saya memesan makanan menggunakan GO-FOOD. Butuh waktu lama hingga hampir setengah jam untuk mendapatkan driver yang bersedia. Beliau menelpon dan meminta waktu agak lama untuk menuju tempat makan karena kondisi hujan. Dan saya setuju.

Setengah jam berlalu, namun tidak ada pergerakan sedangkan perut dan kepala sudah terasa sakit. Berkali-kali saya lihat HP namun tidak ada progress dan akhirnya, saya cancel dengan alasan terlalu lama menunggu. Namun tak lama, HP saya berdering.

Driver GO-JEK menelpon saya dan kecewa karena saya meng-cancel. Katanya, dia sudah basah susah payah dan hujan-hujanan menuju tempat makan tapi tiba-tiba di-cancel sepihak. Dia pun marah. Saya berusaha minta maaf dan bertanya, adakah yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kembali order. Namun Driver tersebut sudah terlanjur kecewa dan marah besar. Dia meluapkan kemarahannya.

Saat itu, saya dalam posisi yang salah. Seharusnya saya menelponnya lebih dulu atau sms lebih dulu sebelum meng-cancel pesanan. Dan saya berusaha meminta maaf menanyakan apa yang bisa saya lakukan. Namun ternyata, sang Driver sangat kecewa berat. Dia tak menuntut apapun, tapi juga tak menerima maaf. Dia terus meluapkan kemarahannya.

Cukup lama dia meluapkan kemarahan dan menutup telpon.

Saya tidak bisa menunjukkan apapun yang bisa membuktikan bahwa saya menyesal dan tak bermaksud melakukannya. Saya coba hubungi Call Center GO-JEK, namun pihak GO-JEK pun tak bisa melakukan apapun karena pesanan saya belum dibeli. Saya hanya bisa meminta maaf. Dan sayangnya, tak semudah itu untuk mendapatkan maaf.

Dan sampai saya menulis ini, saya masih merasa bersalah.

Kejadian ini, mengingatkan saya akan kesalahan saya beberapa bulan sebelumnya. Kesalahan yang lebih besar. Kesalahan yang tak akan mudah dimaafkan hanya dengan berkata, “Maaf, saya tidak bermaksud melakukannya.”